Carstensz Pyramid Diusulkan jadi Wisata Minat Khusus | FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM
Jumat | 14 Agustus 2015 | 00:00 WIB

PARIWISATA

Carstensz Pyramid Diusulkan jadi Wisata Minat Khusus

Redaksi - FRONTROLL.COM
Carstensz Pyramid Diusulkan jadi Wisata Minat Khusus
FRONTROLL.COM,-
Kementerian Pariwisata mengusulkan kawasan Carstensz Pyramid, obyek wisata minat khusus, sebagai ikon wisata Papua. Pengelolaan wisata Carstensz Pyramid tidak boleh menawar atau mengabaikan unsur keselamatan dan keamanan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan hal itu di sela-sela pelepasan Tim Ekspedisi Carstensz Pyramid 2015 di Timika, Mimika, Papua, beberapa waktu lalu. Tim terdiri atas Marinir (TNI), jurnalis, dan komunitas pegiat petualangan alam.

Carstensz, dengan tinggi 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang dalam bahasa suku Amume disebut Nemangkawi, sangat pas menjadi ikon wisata Papua. Carstensz adalah puncak tertinggi kawasan Australia-Oceania sehingga diakui sebagai satu dari tujuh puncak dunia. ”Posisi yang sangat bagus di dunia,” katanya.

Karena menjadi bagian tujuh puncak dunia, Carstensz mustahil diabaikan oleh para pendaki yang ingin mendapat gelar elite penjejak tujuh puncak dunia. Dari beberapa situs internet, pemegang gelar itu sekitar 500 orang yang beberapa di antaranya adalah warga negara Indonesia.

Mereka yang ingin mendapatkan gelar itu, lanjut Arief, tidak akan memedulikan biaya besar yang harus dikeluarkan, yakni lebih dari 10.000 dollar AS. ”Bagi para pendaki, Carstensz sangat seksi,” katanya dengan nada yakin.

Karena biaya yang sangat tidak murah itu, pendakian ke Carstensz rasanya tidak akan dilakukan oleh banyak orang sehingga cocok dikembangkan dalam sudut pandang obyek wisata minat khusus. Kemenpar memperkirakan, pendakian ke Carstensz dalam setahun bisa untuk 300-1.000 orang. Pendakian bisa melalui jalur Ugimba (Intan Jaya), Ilaga (Puncak), dan kawasan tambang PT Freeport Indonesia (Mimika).

Untuk jalur melalui kawasan tambang, kata Arief, sebenarnya tidak disarankan karena bisnis utama Freeport Indonesia bukan pariwisata. Namun, jika jalur itu tidak bisa diabaikan karena kemudahan akses, pemerintah siap bekerja sama dengan Freeport Indonesia dalam hal penerbitan izin pelintas dan bantuan fasilitas terbatas kepada pendaki.

Sekretaris Provinsi Papua Tea Herry Dosinaen menambahkan, isu gangguan keamanan memang tidak bisa disepelekan, tetapi kejadiannya kerap dilebih-lebihkan. Papua adalah tanah damai dan seluruh warga ingin hidup dalam suasana yang aman.(kcm)
BERITA LAINNYA