Find and Follow Us

| : WIB
NASIONAL

5 Kisah Penyanderaan WNI dan Aksi Penyelamatannya

Oleh : Redaksi | Rabu, 16 September 2015 - 14:12:12 WIB | 11107 Views
[Foto : Istimewa/Frontroll]

FRONTROLL.COM,

Belakangan media di Tanah Air sedang diramaikan dengan pemberitaan tentang penculikan 2 WNI di Papua Nugini. Sampai berita ini diturunkan Pemerintah masih berusaha membebaskan WNI tersebut.

Aksi penculikan dan penyanderaan dua WNI yang dilakukan oleh gerakan separatis sipil bersenjata ini mengingatkan kita akan akis serupa yang pernah dialami WNI di tanah air maupun di luar negeri. 

Berikut 5 Penculikan dan penyanderan yang pernah dialami WNI dan aksi penyelamatannya.

1. Penyanderaan Mapenduma

Di awal tahun 1996, sekelompok peneliti Lorentz dari berbagai negara menjadi korban penyanderaan Organisasi Papua Merdeka atau OPM di Mapenduma, Papua. Drama penyanderaan Tim Ekspedisi Lorentz yang berlangsung selama 4 bulan itu berakhir setelah pasukan Kopassus dan Kostrad 330 melakukan operasi khusus, dan berhasil menyelamatkan para sandera pada bulan Mei tahun 1996.

Mabes TNI menggelar satgas untuk membebaskan sandera di Mapenduma. Komandan Jenderal Kopassus Brigjen Prabowo Subianto ditunjuk menjadi komandan. Tim Kopassus yang dikerahkan berasal dari Grup 5 Antiteror. Di antara pasukan TNI lain, mereka mudah dikenali karena berpakaian hitam-hitam.

Saat detik-detik pelepasan sandera, tiba-tiba Kelly Kwalik berubah. Dia berpidato dengan keras.


Maka Brigjen Prabowo langsung menggerakkan pasukan begitu mendengar lampu hijau. Pengintaian lewat udara dilakukan terus menerus. Sebuah pesawat tanpa awak yang bisa mendeteksi panas tubuh ikut digunakan. Bukan perkara mudah melacak jejak sandera di tengah belantara Papua. Tapi TNI terus menekan mereka.

OPM yang terdesak terus bergerak masuk hutan. Dalam keadaan panik, tanggal 15 Mei OPM membunuh dua anggota Tim Lorentz, Navy dan Matheis dibantai dengan kampak. Rupanya mereka berniat membunuh seluruh sandera yang berasal dari Indonesia dan hanya menyandera warga negara asing.

Untungnya sisa tim bisa melarikan diri. Mereka bertemu pasukan Linud 330 Kostrad yang telah mengikuti mereka berhari-hari. Pasukan pimpinan Kapten Agus Rochim tersebut menemukan permen dan pembalut wanita yang tercecer di hutan. Dua benda tersebut menambah keyakinan mereka tak jauh lagi dari sandera.

Tim berkekuatan 25 orang itu bermalam di hutan semalaman. Kapten Agus memanggil bala bantuan. Keesokan pagi, Tim Kopassus datang. Mereka bertugas mengamankan lokasi dan mengevakuasi jenazah Navy dan Matheis.

Setelah 130 hari disandera, para peneliti bisa menghirup napas lega. Mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat. Prabowo dan pasukannya panen pujian dari internasional. Bukan perkara mudah membebaskan sandera di tengah hutan Papua yang begitu lebat.

2. Pembajakan KM Sinar Kudus

Pembajakan MV Sinar Kudus, kapal milik  PT Samudra Indonesia, terjadi di perairan Somalia pada 16 Maret 2011. Kapal itu  dibajak perompak Somalia untuk digunakan sebagai kapal induk pembajak yang beroperasi ke utara sampai Teluk Oman.

Seusai menerima laporan tentang kejadian tersebut, Presiden SBY memberikan perintah langsung pembebasan pada tanggal 18 Maret 2011. Usai rapat di Kemenko Polhukam, pada pukul 19.00 disampaikan tiga tindakan. Tindakan tersebut adalah membebaskan kapal dengan operasi khusus bila kapal Sinar Kudus di tengah laut, menyiapkan rencana cadangan bila kapal telah turun jangkar di wilayah Somalia dengan mempelajari perkembangan, serta mengirimkan 2 kapal fregat dan pasukan khusus.

Panglima TNI  Laksamana TNI Agus Suhartono kemudian menerima persetujuan dari Presiden tentang kekuatan yang akan diturunkan yaitu 2 kapal fregat, 1 helikopter, serta pasukan khusus dari Marinir, Kopassus, dan Kopaska.

Pasukan lalu tiba di Somalia melalui Kolombo secara bertahap. Informasi terakhir kala itu adalah MV Sinar Kudus telah turun jangkar di perairan Somalia. Namun ada kemungkinan masih digunakan sebagai kapal induk pembajak.

Pada tanggal 4 April 2011, pasukan menerima info bahwa MV Sinar Kudus tak sendiri namun ada 8 kapal negara lain yang dibajak. Nasib ABK tidak diketahui secara jelas karena mereka sering dipindah dan jumlahnya di kapal berubah-ubah. Pasukan mengawasi lewat helikopter dan terlihat bahwa setiap kapal dijaga oleh pembajak. Ada 15-20 kelompok perompak yang terorganisir dan tak ada akses langsung untuk melaporkan perkembangan setiap saat.

Negosiasi pada 13 April 2011 mendapat titik terang yaitu penyesesuaian tebusan dengan tindakan. Para ABK dijamin selamat dan setelah pembebasan akan dilakukan tindakan militer. Namun para perompak itu ternyata tak semudah itu melepaskan para ABK. Pada tanggal 28 April 2011 para perompak menaikkan nilai tebusan.

Pengawasan oleh semua elemen pasukan termasuk Kopaska terus dilakukan. Pengantaran uang tebusan akhirnya dilakukan pada tanggal 30 April 2011 menggunakan pesawat dispanser. Tebusan dibawa ke MV Sinar Kudus untuk dicek asli atau tidak. Lalu dibagi ke perompak, investor, tokoh informal 10 persen, dan penjaga 10 persen. Perhitungan dilakukan di kapal selama 20 jam hingga malam.  Berdasar informasi seorang pembajak kepada Reuters, uang tebusan dengan mata uang dollar itu itu jika dirupiahkan senilai  Rp38,7 miliar.

Paginya, perompak turun dari MV Sinar Kudus. Setelah tidak ada lagi perompak, baru dilakukan aksi tindakan militer pengamanan untuk melakukan pengejaran perompak. Karena perompak tahu tindakan itu, perompak ikut menyerang. Akhirnya baku tembak pun tak terelakkan.

Empat perompak yang terkena tembakan lalu jatuh ke laut. Mayat mereka tidak ditemukan dan hanya speedboatnya yang berhasil dibawa ke Indonesia. Setelah itu, TNI mengecek keamaan MV Sinar Kudus dan sterilisasi perompak dan bahan peledak. Setelah diketahui aman, kapal dibawa ke Oman dikawal dengan 2 fregat.

3. 13 WNI Disandera di Somalia

Tak lama setelah kasus KMV Sinar Kudus, 13 Awak kapal asal Indonesia kembali menjadi korban penyanderaan oleh para perompak Somalia. Kali ini, mereka bekerja di kapal berbendera Singapura, MT Gemini dan dibajak di laut Tanzania.

Badan Maritim dan Pelabuhan Singapura mengatakan bahwa kapal MT Gemini dibajak sekitar 222 kilometer dari Dar es Salaam di Tanzania. Kapal berbobot mati 29.871 ton milik Glory Ship Management Pte Ltd tersebut membawa 28.000 ton minyak sawit mentah dari pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, menuju Mombasa, Kenya.

Pada Desember 2011, para ABK itu akhirnya dilepaskan. Termasuk ABK asal Indonesia. 

Kapal MT Gemini berbendera Singapura itu membawa 28.000 ton minyak sawit mentah dari Indonesia ke Kenya dan dibajak 30 April lalu. Kapal itu membawa 13 ABK asal Indonesia, tiga warga negara Myanmar, lima orang asal China dan empat warga Korea Selatan.

Indonesia mengirim tim dari TNI bernama Satgas Merah Putih untuk menyelamatkan mereka. Empat perompak berhasil ditembak mati. Sementara para WNI berhasil dibebaskan setelah uang tebusan diberikan pada perompak.

4. Penculikan Presenter Metro TV Meutya Hafid

Meutya Hafid, penyiar dan presenter Metro TV bersama rekannya kamerawan Budianto, disandera kelompok pejuang atau faksi Mujahidin Irak selama satu pekan, 15–22 Februari 2005.

Meutya disekap di sebuah gua kecil di tengah gurun pasir antara Kota Ramadi dan Fallujah. Selama hari-hari itu, dia diperlakukan bak seorang tawanan perang. Namun tak mengalami kekerasan.

Dia akhirnya dibebaskan setelah lewat proses negosiasi pemerintah. Meutya pun menuliskan pengalamannya ini dalam buku memoar '168 Jam dalam Sandera'.

5. WNI Pegawai PT Kimia Farma Diculik di Nigeria

Masadi, WNI pegawai perusahaan farmasi PT Kimia Farma diculik kelompok bersenjata pada tanggal 23 Oktober lalu di wilayah Kano, Nigeria Utara. Para penculik meminta uang tebusan sebesar USD 500 ribu atau sebesar Rp 4,5 M.

Meski sempat meminta tebusan, namun uang itu tak sampai ke tangan penculik. Kepolisian Nigeria lebih dulu melakukan operasi bersenjata.

Beberapa penculik tewas, sementara Masadi bisa bebas dengan kondisi selamat setelah ditinggalkan para penculik di hutan.

Tag :

0 Komentar