Find and Follow Us

| : WIB
    PARIWISATA

    Banyuwangi Gelar Festival Gandrung Sewu

    Oleh : Redaksi | Sabtu, 26 September 2015 - 13:04:00 WIB | 9109 Views
    [Foto : Istimewa/Frontroll]

    FRONTROLL.COM,

    Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi akan kembali menggelar pertunjukkan kolosal Festival Gandrung Sewu. Sebanyak 1.200 penari Gandrung, akan menari di bibir Pantai Boom menjelang matahari terbenam, Sabtu (26/9), dengan latar pemandangan selat Bali yang menawan.

    Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan, tari Gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai "Warisan Budaya Tak Benda" oleh Kementrian pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

    "Kami merasa bangga mempunyai beragam seni dan budaya lokal yang khas. Kami ingin hal ini dikenal secara luas dan ikut memperkuat khasanah budaya Banyuwangi di tingkat nasional dan internasional," ujar Anas dalam siaran persnya, Jumat (25/9).

    Tahun ini, lanjut dia, gelaran Festival Gandrung Sewu bakal mengangkat tema "Podo Nonton". Event budaya yang digelar tiap tahun ini memperkuat positioning wisata budaya yang menjadi unggulan Banyuwangi selain wisata alam.

    "Beberapa tahun ini, Banyuwangi konsisten mengangkat seni dan budaya sebagai bagian dari pengembangan wisata. Sebut saja Festival Kebo-keboan, Tari Seblang Oleh Sari, Festival Tumpeng Sewu, dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC)," jelas Anas.

    Festival Gandrung Sewu, sambung Anas, juga memperkuat posisi Banyuwangi dalam peta persaingan pariwisata di Indonesia.

    "Pantai menjadi salah satu destinasi wisata alam di Banyuwangi. Dengan event Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom, berarti kami menjual event budaya sekaligus destinasi alam. Gandrung Sewu terbukti telah menjadi daya tarik pariwisata Banyuwangi," papar Anas.

    Tiga Segmen

    Plt Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi, M Y. Bramuda menjelaskan, tarian Gandrung sendiri terdiri atas tiga segmen, yaitu Jejer Gandrung, Paju Gandrung, dan ditutup dengan Seblang Subuh.

    "Podo nonton atau bahasa Indonesia-nya nonton bareng-bareng, merupakan salah satu bagian dari pertunjukan Jejer Gandrung," kata Bramuda.

    "Podo Nonton" sejatinya merupakan tembang wajib yang menjadi musik pengiring pada saat pertunjukkan Jejer Gandrung. Tema ini diangkat karena syairnya mengandung makna heroisme dan perjuangan yang sangat berat dari para pendahulu di Bumi Blambangan (sebutan Banyuwangi) ketika melawan penjajahan Belanda. "Tema Podo Nonton pun akan dikisahkan dalam sebuah drama teaterikal yang sarat pesan," ujarnya.

    Dalam pertunjukan Tari Gandrung sendiri, lanjut Bramuda, sebenarnya ada banyak tembang yang dinyanyikan selain Podo Nonton, seperti Sekar Jenar, Layar Kumendung, Keok-Keok, dan Jaran Dawuk.

    Dalam teatrikal nanti, kata dia, bakal ada adegan kondisi Banyuwangi sekitar tahun 1771 yang subur dan makmur. Tiba-tiba Belanda datang dan memorak-porandakan desa dan hasil tani milik rakyat.

    "Nanti, akan ada visualisasi hasil pertanian dan perkebunan yang dirampas oleh pemerintah kolonial," cetus Bramuda.

    Dalam kondisi yang tertindas tersebut, para petani bangkit dan melakukan perlawan terhadap kesewenang-wenangan tersebut. Hingga akhirnya pecahlah perang awal antara penduduk pribumi dan kolonial. Di masa peperangan tersebut lalu muncul tokoh-tokoh yang menjadi motor penggerak perlawanan terhadap penjajah yakni tokoh Rempeg Jogopati dan Sayuwiwit.

    "Tema 'Podo Nonton' sengaja diangkat untuk mengingatkan masyarakat akan perjuangan para pendahulu. Bagaimana dulu perjuangan penduduk Banyuwangi yang awalnya puluhan ribu, karena perang berkurang menjadi hanya ribuan. Meyakinkan kita, asal dengan niat dan perjuangan yang tulus penderitaan awal akan melahirkan kesejahteraan yang kini kita nikmati semua," tambah Bramuda.

    Tag :

    0 Komentar