Akbar Tandjung : Ambisi Harus Diimbangi Rasionalitas | FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM
Senin | 15 Februari 2016 | 00:00 WIB

WAWANCARA

Akbar Tandjung : Ambisi Harus Diimbangi Rasionalitas

Redaksi - FRONTROLL.COM
Akbar Tandjung : Ambisi Harus Diimbangi Rasionalitas
FRONTROLL.COM,-

Lamanya rentang waktu karir politik Akbar Tandjung terbukti, mulai dari era Soeharto sampai pada era pasca reformasi. Pengalaman yang malang-melintang di dunia politik ini mampu membangun figur atau sosoknya sebagai mentor politik banyak para (calon) politisi muda Indonesia.

 

Akbar Tandjung dilahirkan di desa Sorkam, Tapanuli Tengah, 14 Agustus 1945 silam. Desa Sorkam berada pada titik sekitar 30 km dari kota Sibolga, Tapanuli Tengah Sumatera, Utara. Desa Sorkam terletak di wilayah pesisir Tapian Nauli, yang dalam bahasa Batak berarti “tempat pemandian yang indah”. Mereka yang berasal dari wilayah ini sering menyebut dirinya sebagai orang pesisir. Umumnya, penduduk desa Sorkam memeluk agama Islam dan berasal dari suku Batak.

 

Nama, lengkapnya ialah Djanji Akbar Zahiruddin Tandjung, namun lebih populer dipanggil Akbar Tandjung saja. Nama, itu diberikan ayahnya sebagai realisasi dari khaul, seat istrinya hamil tua. Bermula dari berita radio yang mengumumkan bahwa tentara Jepang untuk Asia Tenggara yang berpusat di Rangoon (Yangoon), Birma  (Myanmar), mengundang Soekarno-Hatta.

 

Tentara Jepang ber anji kepada kedua tokoh tersebut akan segera, memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Mungkin karena Jepang sudah tahu akan kalah melawan tentara sekutu, setelah Hirosima dan Nagasaki dibom Amerika. Serikat tanggal 8-9 Agustus 1945. Jepang perlu mengambil hati rakyat Indonesia.

 

Janji tentara Jepang itu berulang kali disiarkan, sehingga. rakyat Indonesia mengetahuinya, termasuk Zahiruddin, ayah Akbar Tandjung. Karena semangat pergerakannya, Zahiruddin berkhaul, jika nanti Indonesia merdeka, dan istrinya melahirkan is akan memberikan name si anak, Djanji Akbar. Nama. itu baru diberikan ketika Indonesia diproklamirkan merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Yang mana arti nama tersebut adalah Janji Maha Besar.

 

Dengan berbagai dimensi sosial yang melekat dalam dirinya, Akbar beranjak memasuki usia dewasa. Pada 1964, Akbar Tandjung melanjutkan studi di Fakultas Tekhnik Universitas Indonesia (UI). Dalam waktu yang sama Akbar bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam. Perihal alasannnya masuk HMI ini, Akbar menjelaskan  bahwa,  ketika  menjadi  mahasiswa  sering  ditawari   formuir-formulir seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI dan  lain-lain.

 

Kebetulan banyak teman-teman Akbar yang masuk menjadi anggota HMI, dan akhirnya dia pun merasa cocok di HMI. Disinilah dia menemukan sekolah lain yang telah mendewasakan dan membentuk kepribadiannya. Karakter organisasi ini telah mewarnai kesadaran dan perilaku politiknya.

 

Kepercayaan Akbar pada HMI sebagai organisasi kader hingga kini tetap tampak. Sebab di benak Akbar, HMI telah membuktikan sejak dulu kala selalu berada dibarisan depan tatkala panggilan bangsa menyerunya. Bagi  Akbar,  HMI  merupakan  salah  satu  guardian  terpenting     dari moralitas bangsa yang plural.

 

Kepada Tabloid Frontroll yang menyambanginya di kediaman sekaligus kantornya Akbar Tandjung Institute di medio January 2016 lalu, Akbar berbagi cerita pengalaman dan harapannya bagi generasi muda baik yang tergabung di HMI maupun secara umum. Berikut petikan wawancara yang berhasil dirangkum redaksi

 

Frontroll               : Ketika aktif di organisasi kepemudaan. Apa yang Anda ingat?

Akbar Tandjung : Sejak tahun 1966, saya aktif di pergerakan melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia, terutama dalam menentang PKI (Partai Komunis Indonesia). Kami waktu itu berbasis di UI (Universitas Indonesia). Kami mendeklarasikan Tritura –Tri Tuntutan Rakyat.

 

Deklarasi Tritura –bubarkan PKI, turunkan harga sembako, rombak kabinet seratus menteri– kemudian jadi platform tokoh-tokoh 66. Pada periode itu, terjadi gelombang demonstrasi menuntut pembubaran PKI. Sementara kondisi ekonomi dari segi ekonomi dan politik kian memburuk. Harga bahan-bahan kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak melambung tinggi. Situasi inilah yang melatarbelakangi munculnya Tritura.

 

Kami yakin PKI terlibat dalam pemberontakan G30S (Gerakan 30 September saat tujuh perwira tinggi militer Indonesia dibunuh). Kami ingin PKI dibubarkan. PKI bertentangan dengan ideologi nasional kita, Pancasila.

 

Bagi PKI, Pancasila ialah alat pemersatu, tapi kalau sudah bersatu, tidak butuh Pancasila. Karena itu kami tidak yakin PKI tulus menerima Pancasila. Mereka berupaya mengganti Pancasila dengan ideologi komunis.

 

G30S dalam rangka mengganti Pancasila dengan ideologi komunis itu. Karena itu tuntutan pertama kami bubarkan PKI.

 

Sampai saat ini sejarah Indonesia pada periode 1965-1966 masih menjadi momok. Di masa itu ratusan hingga ribuan orang diduga dibunuh, ditahan, dan disiksa. Kebenaran mutlak soal itu belum terungkap hingga kini. Akhir tahun lalu, pegiat hak asasi manusia menginisiasi Pengadilan Rakyat Internasional atas Kejahatan Kemanusiaan 1965 di Indonesia yag digelar di Den Haag, Belanda.

 

Soal tuntutan Tritura lainnya, turunkan harga sembako. Karena harga-harga barang waktu itu naik. Inflasi mencapai 650 persen –tertinggi dalam sejarah Indonesia. Pada masa sesudahnya pun pernah ada inflasi, tapi tidak sampai setinggi itu.

 

Meski dilakukan perbaikan perekonomian lewat langkah moneter penurunan inflasi supaya taraf hidup dan daya beli masyarakat membaik. Tuntutan lainnya, bubarkan kabinet seratus menteri, karena tidak mungkin pemerintah berjalan efektif dengan menteri begitu banyak. Harus dibubarkan agar mampu membangun pemerintahan yang efisien, berwibawa, sekaligus bersih.

 

Kabinet seratus menteri waktu itu dibentuk karena Bung Karno sebagai presiden terdesak. Ia merekrut tokoh-tokoh menjadi menteri sampai seratus. Pertimbangannya bukan kapabilitas, tapi hitungan politik demi memperoleh dukungan politik.

 

Tritura masih relevan sampai hari ini, dan kami (tokoh-tokoh 66) masih memperingati Tritura pada 10 Januari.

 

 

Frontroll              : Anda Dikatakan sebagai panutan generasi muda khususnya mereka yang tergabung di keorganisasian kepemudaan, ada pesan-pesan khusus untuk mereka?

Akbar                    : Ya tentu saja saya melihat bahwa orang-orang muda ini kan merupakan orang-orang yang akan menjadi harapan buat kita kedepan, dan kedepan itukan akan banyak terjadi perubahan-perubahan, dan perubahan-perubahan itu nanti akan menghasilkan juga manusia-manusia yang harus siap dalam mengikuti perubahan itu.

 

Jadi pesan saya kepada orang muda adalah mereka harus mampu membaca tren-tren perubahan kedepan dan kemudian pada saat yang sama mereka juga harus mempersiapkan diri supaya mereka bisa ikut dalam perubahan tersebut dan juga berperanan secara aktif dalam perubahan tadi itu, nah ini yang harus betul bisa dibaca oleh orang-orang muda.

 

Memang setiap perubahan yang akan terjadi kedepan sudah pasti kan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu survive dalam perubahan tadi itu. Untuk itu, kuncinya ya kembali kepada penguasaan, ilmu, pengetahuan, teknologi, kemudian pengingkatan pada kemampuan-kemampuan profesionalnya dan kompetensinya, hanya itu yang bisa menjawab  perubahan-perubahan terjadi.

 

Seperti sekarang kita ini, sekarang kan udah masuk Masyarakat Ekonomi ASEAN. Satu tantangan baru! Tapi juga sebetulnya ada peluang-peluang baru disitu tinggal bagaimana kita mampu melihat tantangan itu. Disinilah orang-orang muda diharapkan mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan-tantangan baru  sekaligus juga bisa melihat peluang-peluang dari perubahan-perubahan tadi itu. Saya kita itu kuncinya orang-orang muda.

 

Frontroll                 : Menurut Anda apa pencapaian terbesar dalam hidup dan karier Anda?

Akbar Tandjung : Kalau saya ini kan falsafah hidupnya saling menghormati, falsafah hidup saya itu mensyukuri, mensyukuri nikmat tuhan. Dalam Al Quran dikatakan “la in syakartum la azidannakum wa la in kafartum inna 'adzabi lasyadid”  (“Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” Q.S. Ibrahim : 7- 8).

 

Jadi saya sudah merasa bersyukur menduduki posisi-posisi yang pernah saya emban selama ini, Sampai pada ketua DPR, sebagi menteri di pemerintahan. Saya pikir saya udah mendapatkan suatu kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan.

 

Jika bicara keinginan, manusia tidak akan pernah merasa cukup, tapi sejauh kita berpegang pada prinsip tadi itu saya kira akan membuat kita tidak lagi memaksakan diri. Saya udah merasa bersyukur sudah mendapatkan kesempatan menduduki berbagi jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan bernegara.

 

Bahwa masih ada keinginan-keinginan  atau ambisi,  kita kan juga harus menggunakan rasional kita, kalau kita pikir sudah tidak rasional lagi untuk apa memaksakan diri. Saya kira itu aja.

 

 

 

Frontroll               : Dari jabatan-jabatan yang pernah Anda emban yang paling berkesan yang mana?

Akbar Tandjung : Mungkin kalau diliat dari segi tantangan yang saya hadapi, tentu pada waktu saya menjadi ketua umum partai Golkar. Karena pada waktu itu Golkar adalah kekuatan politik yang menjadi pendukung utama rezim orde baru kan. Ketika rezim orde barunya jatuh maka tentu Golkar mengalami tekanan-tekanan karena menjadi pilar dari pada rezim orde baru itu.

 

Nah disitulah betul- betul dirasakan betapa beratnya tugas saya sebagai ketua umum partai Golkar menghadapi tekanan-tekanan, opini, fisik, dan sebagainya, bahkan kantor-kantor kami dirusak dibakar saya kedaerah-daerah juga dikejar-kejar, dilempar.

 

Di berbagai tempat, di Jawa Timur itu kantor Golkar  diseluruh DPD tingkat 2 dibakar kantor Golkar, kenapa karena pada waktu itu selain Golkar ini juga dianggap alat dari pada pemerintahan orde baru yang sering dari pengamat-pengamat politik sebut rezim otoriter. Ya itulah yang kita hadapi waktu itu yang banyak betul tekanan-tekanan ya itu yang paling terasa betul, tidak orang yang mengingkari bahwa Golkar betul-betul mengalami tekanan yang berat dan bisa lolos.

 

Frontroll                : Di usia Anda yang ke 70 tahun sekarang, Anda telah berbuat banyak untuk bangsa dan negara, menurut Anda masih ada yang belum Anda lakukan?

Akbar Tandjung :  Ya pokoknya saya tetap berupaya untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan interest saya pada hari-hari ini. Sekarang ini yang menjadi salah satu perhatian saya soal kependidikan.

 

Itulah makanya saya dengan Pak Faisal Tanjung mendirikan SMA Matauli, saya akan pertahankan betul SMA Matauli ini supaya bisa menjadi satu sekolah yang menjadi kebanggaan, tidak hanya menjadi kebanggan di daerah khususnya Tapanuli Tengah, tapi bisa juga menjadi kebanggaan di daerah Sumatera Utara.

 

Sekarang ini kami ingin mendirikan sekolah tinggi perikanan dan kelautan di Sibolga atau Tapanuli Tengah (Tapteng). Kan Tapteng daerah pantai, potensi lautnya besar, kita membutuhkan sekolah yang bisa menghasilkan anak-anak muda yang memiliki kemampuan-kemampuan teknis dalam mengelola sumber daya alam yang kita miliki terutama kelautan, dan itu sekarang yang sedang kami kembangkan, kami kerja sama dengan Universitas Sumatera Utara (USU), kerja sama dengan Universitas Riau (UNRI RIAU).

 

Kemudian tentu kepada anak-anak saya, kan semua sekolahnya sudah pada selesai tinggal yang paling kecil sekarang masih kuliah dan insya Allah  dalam 2 atau 3 tahun ini akan selesai, dia kuliah di amerika. Kalau urusan keluarga niat saya satu, bagaimana saya nanti bisa mengawinkan anak saya semuanya. (*)

BERITA LAINNYA