Dibalik Lagu Genjer-Genjer yang Kontroversial | FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM
Jumat | 30 September 2016 | 00:00 WIB

FEATURE

Dibalik Lagu Genjer-Genjer yang Kontroversial

Bismarc Lesmana - FRONTROLL.COM
Dibalik Lagu Genjer-Genjer yang Kontroversial
FRONTROLL.COM,- Selama ini lagu Genjer-genjer identik melekat dengan PKI. Tapi siapa sangka, awal mula penciptaan lagu ini tak ada sangkut paut dengan PKI. Lagu Genjer-genjer merupakan lagu rakyat di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Lagu itu diciptakan oleh Almarhum Muhammad Arief. Semula lagu Genjer-Genjer diciptakan hanya sebagai senandung kala memetik tanaman genjer. Kalau kita resapi, lagu Genjer-genjer memang tidak memiliki makna apa-apa, hanya bercerita tentang tanaman genjer yang dulu dianggap sampah kemudian mulai digemari oleh rakyat. Genjer-genjer merupakan cermin sejarah Indonesia. Penduduk miskin Jawa hidup dalam kelaparan selama berlangsungnya kependudukan Jepang (1942-1945) dari Hindia Belanda, (sekarang Indonesia).

Kedekatan lagu itu dengan PKI tidak bisa dilepaskan dengan kondisi politik di tahun 1965. Pada masa itu politik Indonesia tengah membuka ruang bagi ideologi apapun hingga membuahkan persaingan antar partai politik. Salah satunya termasuk persaingan dalam hal berkesenian. Seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Lembaga Kesenian Nasional (LKN), Partai Nahdlatul Ulama (NU) dengan Lesbumi, Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) serta Masyumi dengan Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI). Lekra menggandeng seniman Banyuwangi, termasuk Muhammad Arief. Sejak digandeng Lekra, kesenian daerah Banyuwangi semakin dikenal luas. Banyak lagu-lagu khas Banyuwangi yang sering dinyanyikan di acara PKI dan underbownya, tak terkecuali lagu Genjer-genjer yang diciptakan di tahun 1943, lagu Nandur Jagung dan lagu Sekolah.


Entah, siapa yang memulai, pasca G30S, syair lagu Genjer-genjer pun dipelesetkan menjadi syair yang menceritakan aksi penyiksaan para jenderal korban G30S. “Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler, Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral, Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh, Jendral Jendral saiki wes dicekeli,” Begitu bunyi gubahan lagu itu.  Namun, Sebenarnya, Gubahan itu sebenarnya tidak ada dan banyak budayawan mengatakan hal itu tidaklah benar atau fitnah. Meski Konon, lagu yang menceritakan tentang tanaman genjer (limnocharis flava) itu dinyanyikan oleh para anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani)-PKI, saat menyiksa para petinggi TNI di Lubang Buaya.


Akibat ulah dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mengaransemen lagu tersebut hingga berimbas buruk pada lagu rakyat Genjer-genjer. Ketika pengambilalihan kekuasaan oleh Jenderal Suharto tahun 1965, lagu Genjer-genjer menjadi dilarang . Bila berani menyanyikannya, bisa dicap PKI dan bisa berujung penjara. Sebab, Pemimpin baru mengatakan anggota komunis perempuan menyiksa enam jenderal sembari mendendangkan lagu Genjer- genjer. Lagu berganti nama menjadi Jendral-Jendral dan teks menggambarkan bagaimana penyiksaan sebenarnya dilakukan. Sejak itu lagu Genjer-genjer dilarang karena identik dengan komunisme "jahat."

Setelah aksi kudeta tahun 1965, jutaan orang yang dicurigai bersimpati terhadap komunisme ditangkap atau dibunuh. Muhammad Arif, penulis lagu Genjer-genjer, merupakan salah satu korbannya. Selain itu, Lagunya dihapus dari memori kolektif. Seluruh generasi Indonesia mengetahui keberadaan Genjer-genjer, tetapi tidak ada satu nadapun yang mereka kenal.

Tapi sekarang, di era pasca-Soeharto, Genjer-genjer kembali. Para korban rezim akhirnya leluasa berbicara dan lagu Genjer-genjer sekali lagi beralih fungsi. Kali lagu ini seolah menjadi simbol penindasan junta Suharto. Lagu Genjer-Genjer kembali populer saat dipakai dalam sebuah film kontroversial yang menggambarkan situasi Indonesia tahun 60-an.




Berikut ini petikkan syair asli lagu Genjer-Genjer:


“Genjer-genjer, nong kedok’an pating keleler, emak’e tole, teko-teko, mbubuti genjer, oleh sak tenong, mungkor sedot, seng tole-tole, genjer-genjer, saiki wis digowo muleh,”
BERITA LAINNYA
  • Tokoh Tenar di Balik Saracen

    NASIONAL | 25 September 2017 22:43 WIBJakarta - Polisi meyakini ada tokoh tenar dan partai politik tertentu di balik kiprah Saracen, sindikat yang dituduh menyebarkan fitnah dan berita bohong lewat situs berita dan media
  • Trump Menyatakan Perang Dengan Korut

    INTERNASIONAL | 25 September 2017 22:31 WIBRi Yong-ho, Menteri Luar Negeri Korea Utara, membuat klaim mengejutkan di New York Dia mengatakan seluruh dunia harus 'ingat dengan jelas bahwa itu adalah AS' yang mengumumkan
  • Inilah Cara BEI Dorong Startup Melantai di Pasar Modal

    EKONOMI | 25 September 2017 20:31 WIBPT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong agar perusahaan-perusahaan rintisan (startup) bisa mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia. Untuk mendorong hal tersebut, BEI yang juga didukung
  • Film Ini Mewakili Indonesia di Ajang Oscar

    GAYA HIDUP | 25 September 2017 18:55 WIBSejak tahun 1984, setiap tahunnya Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) mengirimkan sebuah film di ajang Oscar. Kali ini, film Turah garapan Wicaksono Wisnu Legowo dipercaya bisa menjadi senjata