Find and Follow Us

| : WIB
    [Foto : Istimewa/Frontroll]

    FRONTROLL.COM, Sudah ribuan tahun umat manusia memainkan drama perang,  namun umat manusia juga tahu, prinsip perang itu mutlak dan tidak mengandung rasa belas kasian. Negara yang kuat akan memainkan logika perang hingga tuntas, hanya pada saat ada kesimbangan, baru ada perdamaian. Sebaliknya perang akan berlangsung terus menerus, sampai pihak yang bermusuhan dikalahkan.  Dunia dewasa ini, adalah saatnya berkecamuknya logika perang hingga tuntas.

    Dewasa ini, Amerika adalah negara kekuatan militer yang terbesar di dunia, sewaktu – waktu Amerika dapat meluncurkan peluru kendalinya menghantam negara manapun, sama sekali tidak ada rasa sungkan. Persaingan dan perselisihan negara Kristen dengan negara Islam sudah berlangsung ribuan tahun, sampai masa kini, Amerika yang dianggap mewakili dunia Kristen tetap sebagai kekuatan militer yang dominan, sedangkan dunia Islam tercerai berai saling cakar-cakaran. Tidak ada satu pun negara yang dapat melawan keperkasaan Amerika, maka, Amerika pun menitik beratkan perangnya pada dunia Islam. Baru-baru ini, Presiden Donald Trump memutuskan meningkatkan skala perang terhadap dunia Islam, dengan Tomahawk menyerang Syria, dengan bom raksasa GBU – 43 menyerang  sarana militer bawah tanah dibagian timur Afganistan, Amerika memamerkan kekuatan militernya di dunia Islam.

    Beraninya Amerika mengagresi dunia Islam, alasan krusial ialah sejak runtuhnya Imperium Kalifah Islam dan dunia Islam terpecah, di dunia Islam tidak ada lagi negara yang medium kekuatan militernya, hanya tersisa Iran satu-satunya negara Islam dengan kekuatan medium militernya, namun Amerika sudah memblokir total Iran, sehingga Iran tidak mungkin mengembangkan pengaruhnya di kawasan aliran Sungai Eufarat dan daerah Mesopotamia. Maka, roket atau peluru kendali Amerika dapat merajalela di dunia Islam tanpa perlawanan. Dari bagian barat laut Asia, Asia Selatan, Asia Tengah dan Afrika Utara , Amerika dapat melakukan pemboman semena-mena sesuka hatinya. Nasib dunia Islam sungguh tragis dizalimi Amerika.

    Situasi di Korea Utara yang letaknya dibagian Asia Timur Laut berbeda dengan dunia Islam, keadaannya juga sangat berbeda dengan dunia Islam. Walaupun Amerika sangatlah membenci Korea Utara, namun geo-politik dan geo-militer sangat berbeda dengan dunia Islam. Letak geografi Korea Utara berada di bagian timur laut Asia, bagian utaranya terhubung dengan Siberia bagian timur, juga berdekatan dengan Korea Selatan, Jepang dan berdekatan dengan Laut Bo Hai, Laut Kuning dan Laut Timur Tiongkok, Amerika menempatkan tentaranya di Korea Selatan dan Jepang, namun kawasan bagian timur laut Asia berkaitan dengan kepentingan Amerika, Rusia, Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan, ada sekecil apapun gejolak di kawasan ini langsung menimbulkan efek secara keseluruhan.

    Jika terjadi perang di Semenanjung Korea, modal resikonya sangat besar, akan langsung mempengaruhi perekonomian Jepang dan Korea Selatan, juga kepentingan ekonomi Amerika. Jika Jepang dan Korea Selatan terluka berat, yang sangat menderita justru kerugian ekonomi Amerika, maka, Amerika tidak mungkin mau mengangkat batu menghujam kaki diri sendiri.

    Letak Korea Utara bagian utara, selangkah menyeberang Sungai Ya Le Jiang sudah masuk wilayah Tiongkok, melintasi Laut Kuning langsung berhubungan dengan pusat pemerintahan Tiongkok : Beijing, Tianjing dan Talian pun akan terseret dalam pusaran aksi militer. Inilah alasan mengapa Tiongkok selalu menentang sikap keras Trump atas Korea Utara. Rusia juga menentang, Jepang juga takut Korea Utara dengan nekad menyerangnya, maka, Jepang yang bersuara keras, namun hatinya merinding, nagara – negara besar dikawasan itu bersikap wait and see, maka kemungkinan terjadi perang pun berkurang.

    Korea Utara dalam jangka waktu lama hidup dibawah ancaman Amerika, kali ini dengan show kekuatan militernya yang langka di dunia, tujuan utamanya untuk persatuan dalam negeri  dengan dalih ada ancaman perang dari luar. Amerika pun meresponinya dengan  mengadakan show militer untuk meningkatkan daya gertak globalnya, juga untuk  memperkuat perannya di dunia, pengalaman menunjukkan setiap kali mencapai titik jenuh, baik Korea Utara maupun Amerika akan cooling down, seberapa besarkah kesungguhan ancaman dari  Korea Utara, masih teka-teki.

    Lihat saja, pameran kekuatan militer kedua belah pihak, seolah-olah sudah sampai klimat dan hanya tunggu komando dari Trump, 2 kapal induk dan kapal selam muatan nuklir sudah dikerahkan di Laut Jepang, Korea Utara pun sudah mengancam akan menembakkan missil inter-kontinental yang langsung diarahkan Amerika, perang air liur begita galak, namun, hanya sebatas ancam-mengancam belaka, antara benar dan abal-abal bikin duna bingung. Karena situasi dan kondisi Korea Utara sangat berbeda dengan dunia Islam, jika Amerika dapat semena-mena membom menzalimi dunia Islam, namun Amerika tidak bisa semena-mena terhadap Korea Utara, sasaran utama Trump yang paling urgensi adalah bagaimana memusnahkan kekuatan dunia Islam.

    Dewasa ini, dunia berada dalam genggaman Amerika, kapan Amerika mau memerangi satu negara, memasuki tahun – tahun Amerika memulai perang agresi. Berdasarkan perkembangan situasi, sasaran tembak utama ialah dunia Islam, setelah menyerang Syria dan Afganistan, sasaran selanjutnya mungkin saja Iran. Tujuan utamanya ialah menghalau pengaruh Rusia dari Asia Barat dan Asia Tengah. Dunia Islam adalah kawasan menyanggah antara Eropa dan Asia, dengan cara menguasai total daerah penyanggah ini, Amerika pun dapat menghambat bahkan memangkas strategi agung one belt 0ne road yang dicanangkan Tiongkok.

    Jalur silk road kuno dari Teluk Persia langsung masuk ke Iran, lewat jalan utara sampai ke kota transit Damaskus, kemudian menyebar ke Asia Barat. Akhir-akhir ini Amerika melakukan aksi militer di negara -negara Islam, strateginya tetap anti Rusia juga anti Tiongkok, asalkan dunia Islam tetap bergolak, maka starategi kemakmuran bersama one belt one road Tiongkok pun tidak bakal berhasil dengan bagus. Dengan dalih anti terrorisme, Presiden Donald Trump meningkatkan aksi militer di Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tengah tentu ada maksudnya. Karena kekuatan Syah di Irak berkembang dengan signifikan, kekuatan Iran juga berkembang dengan signifikan,  banyak gejala menunjukkan, setelah menyerang Syria, sasaran berikut Amerika ialah Iran yang negara berkekuatan medium dalam militer, kekacauan lebih parah di Timur Tengah pun terciptalah.

    Maka, umat manusia harus mewaspadai strategi militer Trump dan tantara Amerika, di awal abad ke- XXI bukankah sudah dikumandangkan  “Tentang Dua Perang Besar”, dengan mengandalkan kekuatan raksasa militer, Amerika merasa mempunyai kesanggupan berperang di dua front. Trump memamerkan otot dan gigi taringnya di Semenanjung Korea dan di dunia Islam, bahkan melakukan penyerang rudal di Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tengah, membuat hubungan Amerika – Rusia berada diambang pintu perpecahan, jika tantara Amerika memulai penyerangan di Korea Utara, menganggap sepi usaha mediasi Rusia dan Tiongkok, akan merusak situasi dan ketertiban kawasan Asia dan hubungan Sino – Amerika. Dunia sangat berharap Trump dapat menahan diri dalam ketegangan di Semenanjung Korea, usahakan lewat diplomasi meredakan ketegangan.

    Dewasa ini, kekacauan di Timur Tengah atau dunia Islam sudah begitu merisaukan dan merusak ketenangan umat manusia, di bulan April saja sudah terjadi beberapa kasus serangan terrorisme, bahkan pada Tanggal 9 April,  serangan terroris terjadi di Mesir. Dunia makin kacau, peperangan pun berkobar dimana – mana, ini fenomena buruk. Sangat diharapkan Pemimpin Tiongkok dapat bervisi jauh kedepan, kedepankan kaum terpelajarnya beraliansi dengan Eropa, bangkitkan gerakan perdamaian baru, memberi tekanan pada Amerika agar mau mengekang diri tidak melakukan agresi di mana-mana. ***

    Oleh : Leo Boscha

    Tag :

    Berita Terkait

      0 Komentar