Gamal Albinsaid, Dokter Muda yang Dibayar dengan Sampah | FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM
Selasa | 05 September 2017 | 13:38 WIB

SOSOK / TOKOH

Gamal Albinsaid, Dokter Muda yang Dibayar dengan Sampah

Redaksi - FRONTROLL.COM
Gamal Albinsaid, Dokter Muda yang Dibayar dengan Sampah
FRONTROLL.COM,- Kesehatan itu mahal, begitulah setidaknya ungkapan yang sering kita dengar ketika kita sedang sakit atau melihat orang lain sakit. Tapi ketika mendengar sosok Dokter Gamal Albinsaid, ungkapan “kesehatan itu mahal biayanya” rasanya tidak begitu berlaku.

Dunia medis Indonesia boleh berbangga hati atas sepak terjang Gamal Albinsaid. Pasalnya, dokter muda yang satu ini berhasil meraih penghargaan dari Kerajaan Inggris karena program yang diluncurkannya.

Di awal tahun, pada 31 Januari 2014, Gamal meraih penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014. Penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Unilever dan Cambridge University ini merupakan kehormatan dan Pangeran Charles kepada entrepreneur muda yang peduli pada sumber daya yang berkelanjutan.

"Alhamdulillah, saya mampu meraih penghargaan tersebut berkat kontribusi besar masyarakat dan juga tim saya selama ini. saat itu, saya mendirikan sebuah klinik yang sistem pembayarannya menggunakan asuransi dengan premi sampah," katanya seperti dikutip dari Studentpreuneur.

Artinya, setiap masyarakat yang ingin berobat ke klinik namun tak memiliki uang dapat menggantinya dengan mengumpulkan sampah. Sampah yang dibawa ke klinik memiliki nilai Rp 10.000 yang dapat digunakan untuk berobat.

Program penghargaan internasional tersebut digelar untuk menginspirasi pemuda di seluruh dunia agar dapat menyelesaikan isu lingkungan, sosial dan kesehatan. Penghargaan ini juga mengundang wirausaha yang berusia 30 tahun ke bawah untuk memberikan solusi yang menginspirasi, praktis dan jelas untuk membantu mewujudkan sustainability living.

"Program saya terpilih menjadi yang terbaik karena dalam waktu yang bersamaan menyelesaikan dua masalah sekaligus, yaitu menangani masalah sampah untuk menyelesaikan kesehatan," ujarnya.

Gamal mengatakan, semua ini berawal dari sebuah kisah nyata di mana saat itu ia menyaksikan sebuah berita yang membuatnya sangat terharu. Betapa tidak, saat itu ada salah satu media massa yang memberitakan bahwa terdapat seorang anak bernama Khaerunissa yang usianya masih tiga tahun harus menghembuskan nafas terakhir.

Tragisnya, anak tersebut meninggal di atas gerobak ayahnya yang berprofesi sebagai seorang pemulung dengan penghasilan sehari-harinya hanya Rp 10.000. Sejak saat itu, Gamal akhirnya memutuskan untuk berbuat sesuatu kepada masyarakat dalam hal berobat.

Artinya, menurut Gamal, masyarakat harus tetap mendapat pelayanan kesehatan dengan cara apapun. Akhirnya muncul sebuah ide untuk mengumpulkan sampah di mana hasilnya nanti dapat digunakan untuk berobat.

Tapi, hal ini tentu tak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, ia pun mengajak warga setempat dan memberikan sosialisasi terkait klinik sampah ini.

"Klinik Asuransi Sampah adalah sistem asuransi kesehatan mikro berbasis kerakyatan dengan semangat gotong royong melalui pembayaran premi dengan sampah sebagai sumber pendanaan utama pelayanan kesehatan masyarakat," katanya.

Ia menambahkan, warga cukup menyerahkan sampahnya kepada Klinik Asuransi Sampah senilai Rp 10.000 rupiah setiap bulan dan bisa menikmati berbagai fasilitas kesehatan. Sampah yang dikumpulkan warga diolah menjadi uang sebagai `Dana Sehat` dengan Metode Takakura dan daur ulang.

Dana Sehat tersebut digunakan untuk pelayanan kesehatan secara holistik, yaitu promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah sakit), kuratif (mengobati sakit), dan rehabilitatif (rehabilitasi yang sembuh). Sehingga walaupun tidak sakit, masyarakat tidak akan rugi, karena mendapatkan berbagai program peningkatan kesehatan.

"Dengan sistem ini, kami menghimpun potensi atau sumber daya yang ada di dalam masyarakat itu sendiri lalu mengembalikan sebagai akses pelayanan kesehatan holistik serta mampu dalam pengelolaan pembiayaannya," jelasnya.

Konsep ini, ia melanjutkan, bersifat sosioenterpreneur, menggunakan sampah sebagai sumber pembiayaan, menerapkan sistem pelayanan kesehatan holistik, memberikan akses yang luas karena setiap orang memiliki sampah, dapat dimandirikan, memiliki daya keberlangsungan yang kuat karena mandiri secara pembiayaan.

Konsep ini juga dapat dimodifkasi dan diduplikasi. Gamal bersama tim Indonesia Medika yang ia dirikan telah menerapkan dan menduplikasi pada 5 klinik.

"Jauh sebelum ada BPJS seperti sekarang, pemerintah juga sudah meluncurkan berbagai macam program jaminan kesehatan. Saya bersama tim Indonesia Medika pun juga pernah melaluinya. Di sini, kami bukan ingin menjadi pesaing program pemerintah. Justru, kehadiran kami akan sangat membantu program jaminan kesehatan yang diluncurkan pemerintah tersebut," jelasnya.

Bahkan, Gamal juga sudah siap untuk bekerja sama dengan BPJS dalam hal pembiayaan asuransi kesehatan yang telah ditetapkan. Artinya, nanti akan dibuat kesepakatan jika ada masyarakat yang tak mampu membayar premi asuransi yang ditetapkan oleh pemerintah dapat diganti dengan mengumpulkan sampah. Jadi, konsep klinik asuransi sampah Gamal masih dapat berjalan.

"Sejak awal, saya sudah memberikan pemahaman kepada tim bahwa yang dijalankan oleh Indonesia Medika adalah sifatnya sosial. Jadi, bekerjanya juga harus penuh dengan keikhlasan. Hal ini sama halnya dengan surat Al Ikhlas yang ada di Alquran tapi tak ada satu kalimatnya yang menyebutkan kata ikhlas," ujarnya.

Artinya, semua yang bekerja di Indonesia medika tidak boleh berpandangan profit oriented. Tapi, untuk keberlangsungan, manajemen Indonesia Medika pun banyak melakukan kerja sama dan juga mendapatkan banyak pendanaan dari donatur maupun program CSR perusahaan. Dengan begitu, setiap program pun tetap dapat berjalan dengan baik sampai sekarang.

"Seperti halnya harapan semua orang, saya dan tim juga ingin mewujudkan kondisi masyarakat yang sehat baik jasmani, rohani maupun sosialnya. Dengan begitu, masyarakat akan dapat melakukan banyak hal yang produktif sehingga mampu memenuhi setiap kebutuhan hidupnya," ucapnya.

Ia mengatakan, dengan banyak melakukan aktivitas yang produktif maka setiap orang akan dapat berkarya dan memberikan manfaat kepada orang lain. Selain itu, Gamal juga ingin mengembangkan program di bidang pendidikan.

Pasalnya, hanya melalui pendidikan maka taraf hidup seseorang juga akan dapat meningkat. Gamal berharap program pendidikan ini akan dapat diterima masyarakat dan berjalan dengan baik.

"Segala sesuatu tidak akan didapatkan secara instan. Banyak hal yang harus dilalui sebelum menuju kesuksesan. Program klinik asuransi sampah saya pun bukan tidak mendapat hambatan. Tapi saya menjadikan hambatan tersebut sebagai sebuah pelecut semangat dan tantangan untuk dapat menyelesaikannya," ungkapnya.

"Oleh karena itu, setiap orang yang harus berjuang semaksimal mungkin. Dan jika menghadapi suatu hal yang menghambat maka berkonsultasilah dengan Tuhan maka Anda akan mendapat jawaban atas setiap kesulitan yang Anda hadapi," tutupnya.
BERITA LAINNYA