Hal Menarik "Menggelitik" yang Disampaikan DPR Kepada KPK Dalam RDP | FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM
Rabu | 13 September 2017 | 12:49 WIB

NASIONAL

Hal Menarik "Menggelitik" yang Disampaikan DPR Kepada KPK Dalam RDP

Redy Budiman - FRONTROLL.COM
Hal Menarik
FRONTROLL.COM,- Komisi III DPR menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama KPK pada Senin 11 September, Rapat Dengar Pendapat Berlangsung lama hingga harus diteruskan esoknya Selasa 12 September.

Sebelumnya DPR sudah mengundang Komisioner KPK untuk menghadiri RDP pada 5 September. Namun hal itu di batalkan karena Komisioner KPK sedang tugas diluar kota, Sehingga jadwal RDP Diulang kembali. Masyarakat sudah banyak yang tahu kalau dua lembaga ini sedang berpolemik, Khususnya ketika Pansus Hak Angket bergulir. Ketegangan antara kedua lembaga ini sudah terlihat sejak pengusutan kasus korupsi E-KTP yang dimana banyak meneyeret beberapa nama anggota DPR RI, Salah satunya adalah mantan anggota DPR periode sebelumnya yaitu Miryam S.Hariani politisi dari Fraksi Partai Hanura.

Singkat cerita Pansus Angket KPK Dibentuk ketika lembaga anti rasuah itu enggan menunjukan Rekaman CCTV dalam pemeriksaan Miryam dan terbentuknya Pansus Angket Menimbulkan banyak dugaan sebagai bentuk pelemahan KPK. Sebelumnya Miryam megaku ditekan oleh penyidik KPK saat diperiksa.

Dalam Rapat Dengar Pendapat Kemarin, Anggota Komisi III DPR RI banyak menanyakan pertanyaan menarik seperti pengelolaaan aset sitan-sitaan KPK dari para koruptor  Hingga mekanisme Operasi Tangkap Tangan (OTT). Dan berikut hal-hal menarik yang terjadi saat rapat RDP antara Komisi III dengan KPK.

1. Menyoal aset dan barang sitaan KPK

Anggota Komisi III dari Fraksi PDIP Junimart Girsang menjadi anggota pertama yang mengajukan pertanyaan kepada KPK. Secara panjang lebar, dia mengungkapkan soal aset dan barang bukti sitaan milik KPK. Salah satunya, ia menanyakan barang bukti yang KPK sita dari Tubagus Chaeri Wardana atau Wawan.

"Ya ini kita hanya ingin kroscek. Harta Harley Davidson, Toyota, Mobil Lexus, Pajero, dan lainnya disita 27 Januari 2014. Akan tetapi dititipkan ke rumah penyimpanan 25 Januari 2015 dititipkan 33," beber Junimart, Senin (11/9).

Junimart lalu menanyakan apakah mobil-mobil tersebut dilelang atau dikemanakan. Ia pun kemudian mengungkit pada 27 Januari 2014 ada 14 mobil kembali disita.
"Catatan kami, kami tidak menemukan informasi apablia barang-barang ini dititipkan, ada di mana sekarang? 33+14=47 mobil," beber Junimart lagi.

Pertanyaan Junimart ini berkaitan dengan Pansus Angket KPK, yang beberapa waktu lalu memanggil petugas Rupbasan. Kemudian adanya temuan kepolisian soal kendaraan yang dicari KPK, tetapi ditemukan di jalan.

Pertanyaan itu pun dijawab Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dengan gamblang.

"Saya ingin menjawab beberapa pertanyaan bapak. Terkait barang Tubagus Chaeri Wardhana, dan saya katakan semua barang itu benar adanya, bahkan ada beberapa barang yang belum ada di list bapak di Melbourne dan di Perth dalam bentuk rumah. Ketika waktu kami koordinasikan dengan Rupbasan, khususnya dengan mobil itu, Rupbasan tadinya juga enggak bersedia karena beberapa mobil mewah itu sulit perawatannya. Memang itu bagian Rupbasan. Tapi karena itu terhitung barang mewah karena itu sebagian diparkir di Jakpus dan Kemenkumham," kata Laode memaparkan.

Barang sitaan itu memang ada, tetapi memang tidak ditaruh di Rupbasan karena terkait perawatan. Tidak hanya itu, ada lagi soal kendaraan pengisian LPG. Karena kalau disita harganya semakin turun, maka tetap dikelola Pertamina.

"Kami sudah bertemu Kemenkeu, Rupbasan, dan pengadilan untuk mencari jalan keluar ikhwal barang rampasan yang jadi tanggung jawab KPK. Tapi kalau yang sudah inkracht itu sedikit gampang, tapi bagi barang yang sudah inkracht pun tak mudah menjualnya, mengingat kasus di belakang barang tersebut. Ada beberapa barang yang kita putuskan untuk kita hibahkan saja kepada negara, karena lebih bagus kita hibahkan ketimbang kita lelang, karena nilai dari barang sitaan itu sendiri bisa turun," urainya.

"Saya yakinkan bahwa semua yang ada di dalam catatan bapak barangnya ada semua, kalau bapak mau cek langsung kami senang hati akan tunjukkan," tutup dia.

2. Masinton sebut penjelasan KPK soal aset dan barang bukti sitaan seperti mendengar cerita dongeng kancil mencuri ketimun

Meski Laode sudah menjelaskan secara gamblang dan panjang lebar mengenai aset dan barang bukti sitaan KPK, jawaban tersebut masih belum memuaskan Komisi III. Anggota Komisi III DPR yang juga Wakil Ketua Pansus Angket KPK dari Fraksi PDIP Masinton Masaribu mencibir jawaban Laode yang dinilainya sangat normatif.

"Apa yang disampaikan pimpinan KPK normatif sekali. Itu kayak kita mendengar cerita dongeng kancil mencuri timun," Ujar Masinton.
Pansus sebelumnya sudah sering menyoal soal aset dan barang bukti sitaan KPK. Hal ini kemudian kembali digulirkan di RDP Komisi III dengan KPK. Ia mempertanyakan aset Tubagus Chaerudin Wardana alias Wawan yang ada di Rupbasan hanya 1 mobil Toyota dari sekian banyak mobil yang telah disita.

"Pertama masalah tentang Rupbasan. Masalah barang sitaan tadi mungkin dijawab masalah aset Tubagus Chaerudin (Wawan). Nah, KPK ketika menyita aset TPPU, Nazarudin disebutkan bahwa ini penyitaan aset terbesar negara dalam memiskinkan koruptor. Ada saham di berbagai perusahaan, tanah, dan bangunan, dan rumah. Namun ketika ini masih kami rapat dengan Rupbasan Dirjen Permasyarakatan wilayah Jabodetabek dari  Rp 550 miliar aset yang ada di Rupbasan cuman 1 mobil Toyota. Nah kami enggak tahu aset lain, kita enggak tahu ada di mana," Tutur Masinton.
BERITA LAINNYA