FRONTROLL.COM
Kamis | 14 September 2017 00:00:00 WIB

Sosok

Dosen Unas Berpeluang Dapatkan Penghargaan Bergengsi Dunia Bidang Konservasi Satwa

Redaksi - frontroll.co.id
 Dosen Unas Berpeluang Dapatkan Penghargaan Bergengsi Dunia Bidang Konservasi Satwa
frontroll.co.id,-

Indianapolis Zoo (Kebun Binatang Indianapolis), Amerika Serikat, meliris daftar nominasi untuk penghargaan bergengsi di bidang konservasi satwa, Indianapolis Prize, Selasa (12/9).

Dari 32 finalis, Dr Suci Utami Atmoko, merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia yang masuk daftar tersebut. Dr Suci ialah dosen Fakultas Biologi dan Sekolah Pascasarjana Magister Biologi Universitas Nasional (Unas) yang aktif melakukan konservasi satwa, khususnya orangutan.

Para nominator Indiana Prize dipilih lantaran dianggap berpengaruh dan memiliki kontribusi nyata terhadap konservasi fauna. Tidak hanya menyelamatkan spesies fauna, melainkan juga populasi dan ekosistemnya.

Masuknya Suci dalam daftar nominasi penghargaan Indianapolis Prize 2017 tidak terlepas dari kiprahnya selama 30 tahun di bidang konservasi orangutan.

Suci mengaku sangat senang dan mengapresiasi hal tersebut. Nominasi Indianapolis Prize ini, menurutnya, menjadi bukti semakin diakuinya peneliti-peneliti Indonesia di mata dunia.

"Saya sangat mengapresiasi hal ini, karena ini artinya dunia Intenasional mulai melihat peneliti Indonesia. Selain itu, konservasi primata di Indonesia juga semakin bermakna di mata dunia dan saya berharap hal ini dapat menjadi teladan bagi semua peneliti dan generasi muda Indonesia," ungkap Suci, melalui keterangan tertulis dari Humas Unas di Jakarta, Rabu (13/9).

Michael Crowther, Presiden dan CEO Indianapolis Zoo, mengatakan, para finalis Indianapolis Prize 2017 merupakan para konservasionis yang paling penting dan berprestasi di lapangan saat ini.

"Para finalis ini tidak hanya melindungi satwa tetapi juga berhasil menciptakan metode konservasi yang sukses untuk menjaga kelangsungan hidup satwa di masa mendatang. Kami memuji prestasi mereka dan mengajak masyarakat, organisasi, perusahaan, dan pemerintah untuk bergabung bersama-sama mereka untuk melakukan konservasi satwa," ujar Crowther.

Mereka, lanjut dia, berasal dari berbagai negara dan lintas benua, yang memfokuskan diri pada satwa unik dan menjadi simbol, dari primata, mamalia laut, hingga reptil dan burung. Tahun ini, Indianapolis Prize membawa lebih banyak koleksi penelitian individual dari ekosistem Asia, termasuk satwa-satwa yang populasinya dalam bahaya, seperti orangutan, macan tutul salju, harimau, dan kukang.

Nantinya, ke 32 finalis ini akan diseleksi kembali menjadi 6 pemenang. Pemenang pertama akan mendapatkan hadiah utama berupa uang tunai sejumlah US$250 ribu dan lima finalis lainnya, masing-masing akan mendapat US$10 ribu.

Para pemenang juga akan mendapatkan medali untuk pencapaian mereka.

Pemenang Indianapolis Prize akan ditentukan oleh juri yang terdiri atas para peneliti dan pemimpin konservasi terkemuka di dunia. Penganugerahan Indianapolis Prize akan digelar 29 September 2017. Indianapolis Prize merupakan penghargaan bergensi untuk para penggiat konservasi satwa, yang sudah diadakan sejak 2006.

 

 

sumber:mediaindonesia

BERITA LAINNYA